Baru baru ini muncul topik hangat di milis fisika Indonesia tentang Butterfly Effect. Bukan suatu diskusi yang bagus, tetapi telah membuka rasa penasaran ingin tahu apa Butterfly Effect tersebut. Ternyata pada abstrak paper “Sea gulls, butterflies, and grasshoppers : A brief history of the butterfly effect in nonlinear dynamics”, Robert C. Hilborn, American Journal of Physics 72, Issue 4, pp. 425-427 (2004), disebutkan sudah ada istilah Grasshopper Effect 70 tahun sebelum istilah Butterfly Effect muncul, yaitu “The butterfly effect has become a popular metaphor for sensitive dependence on initial conditions—the hallmark of chaotic behavior. I describe how, where, and when this term was conceived in the 1970’s. Surprisingly, the butterfly metaphor was predated by more than 70 years by the Grasshopper Effect”.

Sampai di sini rasa penasaran sudah di puaskan dan tidak tertarik lagi untuk mengetahui lebih lanjut apa itu Butterfly Effect atau Grasshopper Effect pada paper tersebut. Lalu tiba tiba di kejutkan oleh pernyatan rekan saya tentang Butterfly Effect dan Theory Chaos, yaitu kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Amazon bisa mengakibatkan tornado di Alaska, Apa pula maksudnya ini ? Saya yang memang sering terlambat mengetahui tentang budaya populer yang muncul di masyarakat.

Karena penasaran, akhirnya mengadakan pencarian lebih lanjut untuk mengetahui istilah Butterfly dan Grasshopper Effect tersebut. Pada paper Robert C. Hilborn di atas disebutkan bahwa istilah Grasshopper Effect muncul pada review terhadap tulisan Pierre Duhem tahun 1897 yang berjudul “Traite Elementaire de Mechanique fondee sur la Thermodynamique”, yang dibuat oleh W. S. Franklin seorang Professor Fisika di Lehigh University tahun 1898, dimana tertulis “Long range detailed weather prediction is therefore impossible, and the only detailed prediction which is possible is the inference of the ultimate trend and character of a storm from observations of its early stages; and the accuracy of this prediction is subject to the condition that the flight of a grasshopper in Montana may turn a storm aside from Philadelphia to New York!’”

Sementara mengenai istilah Butterfly Effect itu lebih mengarah kepada temuan Edward Norton Lorenz (MIT) tahun 1963 yang di publikasikan untuk the New York Academy of Sciences, tentang peramalan cuaca dimana perubahan sangat kecil pada kondisi awal dalam perhitungannya akan menghasilkan skenario cuaca yang berbeda. Dia menulis “One meteorologist remarked that if the theory were correct, one flap of a seagull’s wings could change the course of weather forever“. Belakangan dalam pidato dan papernya Lorenz menggunakan istilah Butterfly yang terdengar lebih puitis. Menurutnya, setelah gagal membuat judul pada pidato yang harus di presentasikannya pada pertemuan American Association for the Advancement of Science tahun 1972, Philip Merilees memberi judul Does the flap of a butterfly’s wings in Brazil set off a tornado in Texas

Setelah mengkaji lebih jauh, baru saya mengerti ternyata istilah tersebut dipakai rekan saya sebagai metafora untuk jangan melakukan kesalahan kecil yang akibatnya bisa fatal atau memberi konsekuensi yang jauh lebih besar. Karena Nila setitik rusak susu sebelanga, demikian kata pepatah. Suatu Frase yang cukup puitis, bahkan ternyata ada film yang berjudul tersebut. Suatu hal menarik ketika sebuah hasil penelitian menjadi frase yang digunakan pada budaya populer. Kenapa budaya populer menyukai menggunakan istilah tersebut ? Hal ini bisa menunjukkan bagaimana publik berpikir tentang sains, apa yang publik harapkan dari riset sains, yaitu yang bisa menjawab secara tepat tentang dunia kita hidup. Adalah suatu hal positif, jika metafore Butterfly effect tersebut dipakai rekan saya sebagai metafore agar selalu melakukan tindakan secara hati-hati.

Ternyata pemakain metafore tersebut pada budaya populer ternyata tidak hanya sebatas itu. Ia juga ditranslasikan kedalam budaya masyarakat sebagai metafora keberadaan peristiwa yang tampak tidak penting yang merubah jalan sejarah manusia dan takdir. Secara tipikal awalnya tidak di kenal, lalu membuat suatu urutan – urutan sebab dan akibat yang tampak jelas jika ditinjau kembali, merubah jalan hidup manusia atau bergema kedalam ekonomi global. Atau oleh suatu peristiwa yang kecil yang bisa merupakan tidakan benar atau salah yang bisa memberikan konsekuensi yang sangat besar. Kadang digunakan untuk mencari hubungan sebab-akibat setelah peristiwa terjadi untuk memuaskan egoisme. Padahal itu sudah menjadi takdir.

Manusia kebanyakan tidak mungkin mengetahui secara pasti hikmah di balik sebuah tindakan. Nabi Musa AS merasa tidakan – tidakan Khidir dalam perjalanan mereka berdua adalah salah, tapi Khidir menunjukkan bahwa apa yang dilakukannya adalah benar karena dia mengetahui makna tersembunyi dari apa yang di lihatnya. Kebanyakan manusia tidak mengetahui makna hal itu. Khidir atau Nabi Sulaiman AS adalah diantara yang bisa memahami apa yang di lihat di alam / atau akan dikerjakan dan mengambil kesimpulan dan tindakan tepat. Apakah gara-gara ada orang yang membuat sumur bor di Jakarta menjadi penyebab gempa di lepas pantai barat sumatra December 2004, yang menjadi penyebab Tsunami di Aceh ? Bisa ya – bisa tidak hanya Allah yang tahu. Apakah sebaiknya SBY menaikkan harga BBM atau tidak ? Apakah kehancuran ekonomy dunia kita sebenarnya sudah dimulai ketika harga minyak menyentuh 100 $ pada 2 Januari 2008 lalu ?

It is extremely hard to calculate such things with certainty. There are many butterflies out there. A tornado in Texas could be caused by a butterfly in Brazil, Bali, or Budapest. Realistically, we can’t know. “It’s impossible for humans to measure everything infinitely accurately,” says Robert Devaney, a mathematics professor at Boston University. “And if you’re off at all, the behavior of the solution could be completely off.” When small imprecisions matter greatly, the world is radically unpredictable.

Referensi

1) “Sea gulls, butterflies, and grasshoppers: A brief history of the butterfly effect in nonlinear dynamics’, Robert C. Hilborn, American Journal of Physics 72, Issue 4, pp. 425-427 (2004)

2) The Meaning of the Butterfly – Why pop culture loves the ‘butterfly effect’ and gets it totally wrong by Peter Dizikes – Boston Globe June 8, 2008

3) Wikipedia, the free encyclopedia

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.