Pahami Yang Tersirat

July 22, 2008

Musashi duduk di jendela sambil bertopang dagu. Ia memandang ke arah puri dan berpikir keras tentang tujuannya: bagaimana caranya agar, pertama, ia dapat bertemu dengan Sekishusai, dan kedua, mengalahkannya dengan pedang.

“Tuan suka bunga?” tanya Kocha ketika masuk.
“Bunga?” Dan ditunjukkannya bunga peoni itu.
“Hmm, bagus ini.”
“Tuan suka?”
“Ya.”

“Ini namanya peoni, peoni putih.”
“Betul? Kenapa tidak kamu masukkan jambangan di sana itu?”
“Saya tak bisa menyusun bunga. Tuan saja yang menyusun.”
“Tidak, kamu saja. Lebih baik menyusunnya tanpa berpikir bagaimana jadinya.”
“Baik, saya akan ambil air,” kata Kocha sambil membawa jambangan itu keluar.

Secara kebetulan mata Musashi tertuju pada pangkal batang peoni yang terpapas. Kepalanya miring terkejut, walaupun belum dapat ia memastikan apa gerangan yang memikat perhatiannya itu. Minat yang hanya sambil lalu itu telah berubah menjadi pemikiran asyik ketika Kocha kembali. Kocha meletakkan jambangan dalam ceruk kamar dan mencoba memasukkan bunga itu ke dalamnya, tapi kurang berhasil.

“Batangnya terlalu panjang,” kata Musashi.
“Bawa kemari, biar kupotong. Nanti kalau kamu dirikan, akan tampak pantas”.

Kocha membawa bunga itu dan menyampaikannya kepada Musashi. Belum lagi sadar akan apa yang terjadi, ia sudah melepaskan bunga itu dan mencucurkan air mata. Sungguh ajaib, karena dalam sekejap mata Musashi sudah menghunus pedang pendeknya, memekik keras, memotong pangkal bunga yang ada di antara kedua tangan Kocha, dan memasukkan kembali pedang ke dalam sarungnya. Bagi Kocha, kilas baja dan bunyi pedang yang mendetak masuk kembali ke dalam sarungnya itu seakan-akan terjadi serentak. Tanpa mencoba menghibur gadis yang ketakutan itu, Musashi memungut potongan batang bunga yang telah diirisnya dan mulai membandingkan ujungnya dengan ujung yang lain. Ia tampak tenggelamsepenuhnya di situ. Akhirnya, ketika melihat gadis yang kebingungan itu, ia minta maaf dan membelai-belai kepalanya. Selesai membujuk gadis itu agar tidak menangis lagi, ia bertanya,

“Kamu tahu, siapa yang memotong bunga ini?”
“Tidak. Bunga ini pemberian orang.”
“Siapa yang memberi?”
“Orang dari puri.”
“Salah seorang samurai itu?”
“Tidak, seorang perempuan muda.”
“Mm. Lalu kamu pikir bunga itu dari puri?”
“Ya, dia yang mengatakan.”

“Maaf aku sudah bikin kamu takut tadi. Kalau kubelikan kamu kue nanti, mau kamu memaafkan aku? Biar bagaimana, bunga sudah bisa disusun sekarang. Coba masukkan dalam jambangan”

“Begini?”
“Ya, bagus itu.”

Sebenarnya Kocha menyukai Musashi, tapi kilasan pedangnya itu membikin tubuhnya dingin sampai ke tulang sumsum. Ia meninggalkan kamar itu dan tak ingin kembali sampai tugas benar-benar memaksanya. Musashi jauh lebih terpesona oleh potongan batang bunga yang delapan inci panjangnya itu daripada oleh bunga di ceruk kamar. Ia yakin potongan yang pertama tidak dibuat dengan gunting atau pisau. Batang bunga peoni itu lentur dan luwes, maka potongan itu hanya mungkin dilakukan dengan pedang, dan hanya hantaman yang sangat mantap saja dapat membuat irisan yang demikian bersih. Siapa pun yang telah melakukannya, bukanlah orang biasa. Sekalipun ia sendiri baru saja mencoba meniru potongan itu dengan pedangnya, waktu kedua ujung potongan itu dibandingkan, segera ia sadar bahwa potongan yang dilakukannya masih kalah jauh. Perbedaannya seperti patung Budha hasil ukiran ahli dan patung buatan tukang kebanyakan saja. Ia bertanya pada diri sendiri, apa gerangan makna yang tersembunyi di situ.

“Jika seorang samurai yang bekerja di kebun puri dapat melakukan potongan seperti itu, maka taraf Keluarga Yagyu tentunya lebih tinggi lagi daripada yang kuduga.”

Dan tiba-tiba saja keyakinan dirinya buyar.
“Aku sama sekali belum siap.”

Namun selangkah demi selangkah ia pulih kembali dari perasaan itu.

“Bagaimanapun, orang-orang Yagyu itu lawan yang layak. Kalaupun aku kalah nanti, aku dapat menjatuhkan diri ke kaki mereka dan menerima kekalahan dengan keanggunan. Aku toh sudah memutuskan bersedia menghadapi apa pun, termasuk mati.”

Sementara duduk memanas-manaskan keberaniannya, ia merasa dirinya jadi tambah bersemangat. Tapi bagaimana ia bisa melakukannya? Biarpun seorang siswa sudah datang di ambang pintunya dan memperkenalkan diri baik-baik, belum tentu Sekishusai setuju bertanding. Pemilik penginapan itu cukup banyak bercerita. Dan karena Munenori maupun Hyogo tak ada di rumah, tak ada lagi yang mesti ditantang kecuali Sekishusai sendiri. Sekali lagi ia mencoba mencari jalan untuk memperoleh izin masuk puri. Pandangan matanya kembali ke bunga di dalam ceruk kamar. ……

Musashi – Eiji Yoshikawa

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.