Durian dan Persahabatan
July 27, 2008
Buah durian di sebut juga Rajanya buah buahan. Buahnya besar dan berduri. Isinya ada yang manis sekali, adanya manis agak kepahitan, ada pula yang tidak terlalu manis. Demikian juga durinya ada yang tajam dengan pangkal duri yang sempit, ada juga yang tajam dengan pangkal yang lebih lebar, bahkan pernah saya melihat durian yang pangkal durinya sangat lebar dengan duri yang tumpul. Warna durinya ketika masak ada yang kuning, dan ada yang agak kehijauan, demikian pula warna isi yang bisa di makan. Ada yang kuning keemasan ada yang agak hijau keputihan. Singkatnya banyak sekali jenis durian yang beredar di Indonesia.
Ada durian yang sudah punya brand, dan di jual dengan harga mahal seperti durian monthong dan durian petruk, tapi kebanyakan durian yang di jual di kota di Sumatera adalah durian yang di jual oleh pedagang yang membelinya secara borongan di desa desa penghasil durian, lalu di jual ke kota. Tidak heran begitu kita mau membeli durian ada banyak sekali jenis yang berbeda. Sehingga harus pandai pandai memilih. Apalagi pedagang sekarang pandai mengelabui pembeli, misalnya durian yang berlubang karena di makan ulat di tutupi dengan kulit buah durian yang lain, sehingga terlihat tidak ada lubang ulat. Bisa di pastikan kalau di makan ulat, isi dalamnya tidak akan bagus semuanya, dan ada sebagaian bahkan seluruhnya berasa busuk atau asam.
Karena banyaknya jenis durian tersebut, kadang sulit memastikan apakah buah durian isinya bakal bagus dan rasanya enak dan sesuai selera kita, kecuali setelah kita membukanya. Untuk membukanya juga kadang sulit dan bahkan bisa jadi jari atau telapak tangan tertusuk durinya. Karena itu kita tak bisa berasumsi suatu durian akan terasa enak – sesuai dengan selera kita – hanya dengan melihat luarnya.
Umumnya kita memilih apakah dia ada lobang tanda di makan ulat atau enggak. Jika tidak ada lobang ulat dan baunya enak (walau kadang ada yang baunya tidak tercium kuat tapi begitu di buka rasanya enak sekali), maka pembeli bisa mengadakan transaksi dengan pedagang. Dia daerah Sumatra, Jika keputusan harga sudah di buat, maka kita bisa minta pedagang supaya membuka sedikit durian tersebut untuk melihat apakah masaknya pas (karena kadang kala di temukan durian yang masih mentah), apakah isinya busuk dan berasa asam. Jika semuanya oke maka durian kita ambil, jika tidak bisa di tukar kembali dengan durian yang lain, dan kita bisa memilih lagi. Tapi walau demkian, kadang kala masaknya pas dan tidak mentah, isinya tidak busuk dan berasa asam, tapi ternyata rasa manisnya kurang lezat bagi lidah kita. Jadi durian yang bermacam macam itu hanya bisa di pastikan rasanya, masaknya dan manisnya sesuai dengan kita jika kita telah membuka kulitnya. Bahkan terkadang tangan mesti terluka sedikit baru bisa menikmati enaknya.
Sahabat, demikian pula dengan manusia dan persahabatan antar manusia. Terlalu bodoh kita menilai seseorang hanya dari apa yang kita lihat dan rasakan dari luar saja dalam waktu yang singkat apalagi jika kita jarang bersama. Kadang kita perlu lama bergaul baru bisa menilai apakah manusia itu bagus ahlaknya, bersedia berkorban untuk sahabatnya, bersedia membantu sahabatnya ketika sahabatnya perlu bantuan yang nyata, atau bersedia berkorban demi sahabatnya. Seperti buah durian, kadang tangan kita harus tertusuk dulu dan berusaha keras membukanya baru kita bisa merasakan manis dan enaknya.
Dalam suatu ceramah pak Ustad mesjid kami pernah bilang, bahwa bagi orang tua yang mau menilai calon menantu buat anak gadisnya, adalah dengan melihat apakah pemuda calon menantu itu melaksanakan shalat subuh di mesjid ataukah tidak dan kedua adalah dengan mengajaknya berjalan jauh yang akan menguras tenaga atau fisik. Pak ustad bilang bahwa dalam keadaan lelah, biasanya akan terlihat sifat manusia itu sesungguhnya, apakah dia egois lebih mementingkan diri sendiri atau mementingkan kawan seperjalanannya.
