Memaafkan
December 27, 2008
Minggu ini aku mendapat sebuah tamparan telak saat membaca sebuah tulisan dari dosen saya di milis alumni. Tulisan yang juga banyak membuka mata alumni yang lain, dari tanggapan yang muncul atas email tersebut. Intinya bukan hal yang baru. Kita semua tahu bahwa besikap baik, mawas diri, rendah hati , tidak sombong, hormat kepada semua orang adalah bukan ajaran baru. Tetapi dengan penyampaian yang baik ajaran ajaran baik tersebut membuat kita mau berfikir kembali, melakukan refleksi diri, merenung, apakah kita sudah melakukan dan bersikap seperti itu ?
Di padang savannah di Afrika sangat mudah kita melihat bangkai Singa jantan yang mati, tetapi sangat sulit menemukan bangkai gajah. Karena di masa hidupnya Singa Jantan selalu bersikap egois, mau menang sendiri, merasa jago sendiri. Akibatnya disaat dia mulai lemah, diapun mati di mangsa Singa lain. Tetapi Seekor gajah dimasa hidupnya adalah mahluk sosial yang sangat peduli dengan kelompoknya, sehingga sampai di masa akhir hidupnya dia akan selalu di lindungi oleh kelompoknya.
Tentang Cinta dituliskan, bahwa orang yang tidak mencintai dirinya sendiri, orang tuanya, keluarganya, gurunya, saudaranya, tetangganya, teman sekolahnya, teman bermainnya, teman seperkumpulannya, teman sekerjanya, teman sebangsanya dan ciptaanNya (termasuk alam) akan mencintai Tanah Air dan Penciptanya. Ada yang menyatakan bahwa barang siapa yang mengenal dirinya sendiri akan mengenal Tuhannya. Tuhan menyatakan bahwa dia lebih dekat dari bulu kuduk kita. Tugas kita adalah beriman (percaya), beramal soleh, mencari kebenaran, sabar dan bersyukur.
Terima kasih mas Wid atas tulisannya yang menyentuh dan membuka mata saya untuk menghilangkan rasa dendam di hati saya kepada orang yang pernah menyakiti hati saya saat ini, menumbuhkan cinta dalam hati saya kepada semua orang. Aku sudah memaafkan mereka semua.
